Calon-calon Investor Baru Pada Industri Semen

Tingginya peningkatan konsumsi semen di dalam negeri terutama yang terjadi pada tahun 2011 hingga menjelang pertengahan 2012 ini, membuat beberapa produsen di Indonesia terus berlomba meningkatkan kapasitas produksinya dengan membangun beberapa unit pabrik baru yang diharapkan dalam 2-3 tahun kedepan dapat beroperasi dengan normal dan bisa berproduksi untuk memenuhi kebutuhan semen di dalam negeri.

Pada tahun 2012 ini, jumlah kapasitas terpasang yang ada adalah sebesar 56,82 juta ton, kebutuhan semen di dalam negeri diperkirakan akan mencapai 52,8 juta ton. Dalam tiga tahun kedepan jika rata-rata kebutuhan semen mengalami pertumbuhan sebesar 10% setiap tahunnnya maka diperkirakan pada tahun 2015 kebutuhan semen akan mencapai 70,2 juta ton.

Jika kita lihat dari beberapa data tersebut diatas, maka jika dalam 3 tahun kedepan di Indonesia tidak ada penambahan kapasitas terpasang dari pabrik yang ada maka bisa dipastikan Indonesia akan mengalami ‘shortage’ atau krisis semen, mengingat pembangunan yang sedang berlangsung sekarang ini begitu pesat dan dalam waktu yang bersamaan dengan skala yang besar, belum lagi tingkat kebutuhan akan properti yang semakin tinggi.

Selain dari pabrikan yang ada sekarang ini, beberapa investor baru tampaknya juga akan meramaikan industri semen di tanah air, antara lain adalah (daftar dihimpun dari berbagai sumber) :

No.

Nama Pemilik Proyek / Investor

Kapasitas/tahun

Lokasi

1 China Anhui

10 juta ton

Kalsel/Kaltim/Kalbar/Papua Barat
   

2,5 juta ton

Tanjung, Kalsel
2 China Trio Int. Engineering Co. Ltd

1,5 juta ton

Subang, Jabar
3 (SDIC) State Development and Investment Cooperation

1 juta ton

Papua
4 Siam Cement Group – Thailand

(Akuisisi Boral/Jaya Readymix)

1,8 juta ton

Sukabumi, Jabar
   

1,2 juta ton

Bayah, Banten
5 Paku Bumi / Semen Karawang

PT Jui Shin Indonesia

2,5 juta ton

Karawang, Jabar
6 PT Semen Grobogan /

Gajah Tunggal (China Triumph Int Eng Co Ltd – CTIEC)

1,5 juta ton

Grobogan, Jateng
7 Wilmar Group

2 juta ton

Banten
8 Ultra Tech Cement – India

4 juta ton

Wonogiri, Jateng

Apabila dari seluruh proyek-proyek tersebut berjalan, maka di Indonesia akan ada penambahan kapasitas terpasang industri semen menjadi sebesar lebih kurang 80 juta ton. Jumlah tersebut akan mencukupi kebutuhan semen di dalam negeri atau bahkan sisanya bisa untuk memenuhi pasar ekspor.

 

Advertisements

Hingga November 2011 Konsumsi Semen Masih Sangat Tinggi

ilustrasi proyek pembangunan jalan tol

Beberapa bulan terakhir ini menjelang tutup tahun, kondisi pasar semen di dalam negeri masih terus menunjukkan tingkat pertumbuhan yang tinggi, bahkan di beberapa wilayah terjadi gejolak harga akibat dari kurangnya pasokan dan keterlambatan distribusi semen. Peningkatan tersebut dipicu oleh pembangunan infrastruktur dalam skala besar secara bersamaan waktunya dan juga permintaan semen oleh masyarakat untuk sektor perumahan tempat tinggal juga meningkat dengan pesat.

Grafik trend penjualan semen per bulan tahun 2010-2011

Hingga pada periode Januari – November 2011, penjualan semen didalam negeri telah mencapai angka 43,4 juta ton dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17.8% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. Angka ini mencerminkan bahwa pada tahun 2011 selama 11 bulan peningkatan penjualan semen di dalam negeri begitu agresif. Jika hal ini terus terjadi, tidak menutup kemungkinan pada beberapa bulan kedepan Indonesia akan mengalami krisis semen.

Kapasitas terpasang dari industri semen nasional saat ini adalah 53 juta ton dari sembilan produsen yang ada saat ini. Untuk periode Januari hingga November kemampuan produksi rata-rata sudah mencapai lebih kurang 85% yaitu dengan angka penjualan sebesar 44,5 juta ton. Itupun dirasakan masih ada beberapa wilayah yang tidak dapat dipenuhi permintaan semennya karena tingginya permintaan semen di seluruh Indonesia, sehingga pihak produsen pun sedikit keteteran untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar dan lebih mengutamakan pasar yang lokasinya dekat dengan pabrik.

Bahkan pada berita yang dimuat di detik.com tgl. 19 Desember 2011 yang lalu, Ketua ASI menyatakan bahwa jika diperlukan produsen semen dapat melakukan impor produk semen setengah jadi atau biasa disebut clinker, untuk kemudian digiling dan dipasarkan di pasar domestik guna meredam gejolak pasar yang begitu tinggi pada beberapa waktu mendatang.

sumber: Kemenperin dan ASI.

Ekspor – Impor Semen Dunia tahun 2010

Grafik 10 Negara pengekspor semen terbesar tahun 2010

Perdagangan semen internasional (termasuk klinker) tahun 2010 mencapai 151 juta ton, lebih rendah dari tahun sebelumnya. Jumlah tersebut sama dengan 5% dari produksi semen dunia. Sejumlah 3,1 miliar ton (95%) merupakan konsumsi domestik yang artinya hanya diperdagangkan di pasaran lokal. Hal ini dapat dimengerti karena sifat fisik yang bulky dan berat per satuan akan membutuhkan biaya transport yang tinggi. Dibandingkan tahun sebelumnya, perdagangan semen ini turun 6%. Perdagangan semen internasional ini termasuk klinker yang berjumlah 70 juta ton. Krisis global tahun 2008 juga masih menyebabkan turunnya volume perdagangan semen internasional. Sejumlah 15 juta ton (70%) dari total perdagangan semen global diperdagangkan melalui laut. Pada grafik memperlihatkan China tidak lagi pada posisi nomor satu untuk ekspor semen dan klinker terbesar dengan jumlah kurang dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 16,6 juta ton. Posisi pertama diduduki oleh Turki dengan ekspornya sejumlah 19 juta ton,  disusul Thailand 14,4 juta ton, Jepang masih cukup stabil dengan jumlah ekspor sebesar 10 juta ton pada urutan keempat. Kemudian diikuti oleh Pakistan dengan jumlah ekspor sebesar 9,7 juta ton pada posisi kelima. Sementara Indonesia pada tahun ini hanya membukukan 2,9 juta ton melorot pada posisi ke 15 sebegai negara eksportir semen di dunia.

Grafik 10 negara importir semen terbesar dunia tahun 2010

Amerika Serikat tidak lagi menjadi negara importir semen terbesar di dunia. Posisi importi semen dan klinker terbesar pada tahun 2010 dipegang oleh Bangladesh dengan jumlah 12,5 juta ton. Importir terbesar kedua adalah Nigeria dengan jumlah impor 7,3 juta ton diikuti oleh Amerika Serikat pada posisi ketiga dengan jumlah 5,6 juta ton dan Irak 5 juta ton pada posisi keempat. Afghanistan dan Singapura masing-masing dengan 4,7 juta ton dan 4,3 juta ton pada posisi enam dan lima. Posisi berikutnya dipegang oleh Taiwan, Angola, Belanda, dan Italia dengan impornya diatas 3 juta ton. Pada beberapa negara seperti Belanda kemungkinan besar impor tersebut tidak dikonsumsi sendiri akan tetapi sebagian diteruskan ke negara tetangga, karena konsumsi domestiknya lebih rendah dari jumlah yang diimpor.

 

Sumber: International Cement Review.

Setelah 3 Tahun Terus Meningkat, Selanjutnya…???

Menyambung posting sebelumnya mengenai penurunan volume ekspor, pada tulisan ini digambarkan bagaimana kondisi penjualan semen domestik selama 3 tahun terkahir, dimana pada tahun 2009 dan 2010 rata-rata penjualan semen domestik perbulannya masih berada pada kisaran 3,5juta ton sampai 4 juta ton.

Saat ini penjualan semen domestik sudah menunjukkan angka pada level 4 juta ton sampai dengan 4,5 juta ton per bulannya, gambaran angka penjualan tersebut juga mencerminkan betapa tingginya kebutuhan semen di dalam negeri saat ini yang kemungkinan besar akan terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan. Bahkan selama kurun waktu 30 tahun industri semen berjalan, angka penjualan semen nasional belum pernah mencapai 4,3 juta ton, yaitu penjualan pada bulan Juli 2011.

Jika mengamati gambaran tersebut diatas, perlu kiranya menjadi perhatian terutama bagi Pemerintah, untuk terus mendorong para produsen segera melakukan penambahan kapasitas produksi dari industri semen yang ada sekarang ini atau melakukan pembangunan pabrik semen baru. Hal ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak tergantung pada produk semen impor di tahun-tahun mendatang.

Mencoba menjawab ‘tanda tanya’ dari judul tulisan ini… Selanjutnya kedepan industri semen Indonesia semakin mampu menjadi industri yang dapat menghasilkan produk yang dicintai oleh masyarakat, tentunya produk dengan  harga yang terjangkau, terjamin kualitas serta kelancaran pasokannya.

Semoga….

 

Trend Penjualan Semen Juli dan Estimasi s/d Desember 2011

Penjualan semen domestik pada bulan Juli 2011 masih cukup tinggi apabila dibandingkan Juli 201o yaitu meningkat sebesar 17%, sedangkan terhadap bulan lalu juga terlihat cukup tingi yaitu meningkat sebesar 7%, dan untuk periode Januari-Juli meningkat 15% apabila dibandingkan dengan tahun 2010. Secara umum pasar domestik masih terus menggeliat sejak beberapa bulan terakhir ini, dimana proyek-proyek berskala besar mulai berjalan yang dampaknya dirasakan beberapa pabrikan, dimana mereka harus fokus pada pasar utama dengan mengurangi pengiriman ke luar pulau maupun ekspor. Namun demikian pasar akan sedikit ‘drop’ pada bulan Agustus ini karena puasa yang dilanjutkan musim libur lebaran. Pasar akan kembali menanjak kencang pada bulan-bulan berikutnya hingga akhir tahun 2011 yang diperkirakan akan mencapai peningkatan sebesar 10%-12%, jauh diatas angka proyeksi yang pernah di-release baik oleh Kemenperin maupun ASI (lihat grafik).

Produksi dari seluruh pabrikan yang ada diperkirakan masih mampu untuk menutupi kebutuhan pasar di dalam negeri, beberapa pabrikan malah sudah tidak melakukan ekspor dan lebih fokus memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pada bulan Juli ini ekspor semen turun 30% dibanding bulan Juni, dan selama tujuh bulan ini telah menurun sebesar 51%. Tidak menutup kemungkinan beberapa pabrikan akan melakukan impor clinker untuk membantu tingginya permintaan domestik pada beberapa waktu mendatang.

Harga semen yang berlaku saat ini berdasarkan data Kemendag, masih dalam taraf yang wajar, gejolak harga yang terjadi hanya bersifat sementara saja dan hanya di beberapa daerah saja. Kenaikan harga yang terjadi banyak disebabkan karena adanya kendala pada distribusi akibat kurang baiknya dukungan dari infrastruktur terutama pada sarana pelabuhan bongkar-muat dan jalan raya.

sumber: Kemendag dan ASI yang diolah.