“Sustainable Development” untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Dunia terus membangun dari hari ke hari, baik pembangunan fisik maupun pembangunan kehidupan sosial. Harapannya, pembangunan akan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Masalahnya, kerapkali pembangunan dilakukan demi pembangunan itu sendiri dan hanya untuk kepentingan saat ini. Itulah sebabnya berbagai ekses negatif pembangunan lebih mencuat dan justru menjauhkannya dari tujuan semula. Sebut saja, menipisnya sumber-sumber alam yang tak tergantikan, pemborosan energi, sampah, kemiskinan dan masalah-masalah lainnya.

Para pakar dan pemerhati yang peduli terhadap kehidupan menyebut sustainable development sebagai solusi untuk menjawab permasalahan tersebut. Secara sederhana, sustainable development didefinisikan sebagai pembangunan yang berkelanjutan atau berorientasi masa depan. Dalam sustainable development, pengolahan sumber alam yang bisa diperbarui harus memperhatikan ambang batas pembaruan dirinya. Sedangkan sumber alam yang tidak dapat diperbarui harus digunakan secara efisien , disertai usaha daur ulang agar bisa dimanfaatkan secara terus menerus.

Dalam praktek, hal ini tentu memerlukan perubahan dalam cara membangun, dari cara produksi konvensional menjadi cara produksi dengan menggunakan sumber daya alam yang semakin sedikit. Bagaimana caranya agar pembakaran energi semakin rendah, penggunaan ruang lebih kecil, pembuangan limbah dan sampah lebih sedikit dengan hasil produksi yang setelah dikonsumsi masih bisa didaur ulang.

dikutip dari Media Holcim & Anda.

Advertisements

Alternative Fuel and Raw Material (AFR) Pengganti Batubara

Para produsen semen terus melakukan upaya mencari bahan bakar alternatif atau Alternative Fuel and Raw Material sebagai pengganti batubara. Beberapa bahan bakar pengganti yang digunakan antara lain ban bekas, oli bekas, jambu mete, buah jarak, sekam padi, cangkang sawit, sementara untuk pengganti bahan baku antara lain cooper slag, drilling cutting cement serta fly ash.

Penggunaan AFR diharapkan dapat memberikan solusi ramah lingkungan terhadap permasalahan limbah, mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam tak terbarukan, mengurangi emisi, dan peluang kegiatan ekonomi untuk masyarakat.

Dengan AFR akan ada penghematan, adanya pengurangan CO2 ke lingkungan, sehingga efek terhadap panas global juga berkurang.  Selain daripada itu bagi perusahaan yang menggunakan AFR juga bisa mendapatkan kompensasi melalui program Clean Development Mechanism (CDM).

Industri Semen Minta Standarisasi Teknologi Segera Diterapkan

Industri semen nasional meminta pemerintah segera menerapkan
standarisasi teknologi produksi semen guna menjaga kualitas produk setiap produsen semen. Urip Trimuryono, Ketua Asosiasi Semen Indonesia, mengatakan penerapan standarisasi akan menjaga efisiensi produksi, baik dari sisi penggunaan mesin, energi, hingga emisi gas buang.

“Aturan standarisasi teknologi untuk mesin semen tersebut sudah di bahas bersama dengan Kementerian Perindustrian. Kementrian Perindustrian sudah tahu mesin seperti apa yang cocok untuk Indonesia,” katanya kepada IFT.

Menurut Urip, rencana penerapan aturan standarisasi teknologi ini seiring dengan kekhawatiran masuknya mesin produksi semen dari China berteknologi rendah. Apalagi di China sendiri, mesin tersebut sudah di tolak penggunaannya oleh pemerintah setempat.

Salah satu perusahaan semen yang menggunakan mesin asal China adalah Lafarge untuk pabriknya di Nangroe Aceh Darussalam. Hingga kini, mesin tersebut belum juga berproduksi, padahal pembangunan pabrik sudah masuk tahun ketiga. Idealnya dua tahun setelah pembangunan pabrik, akan mesin produksi sudah mulai beroperasi.

Selain Lafarge, pabrik Semen Kupang yang berada di Kupang juga sudah selesai pembangunannya 10 tahun yang lalu, namun sampai sekarang belum bisa berproduksi karena menggunakan mesin China.

“Walaupun tidak di atur, sebetulnya yang mempunyai pabrik bisa melihat. Kalau membeli mesin dari China kemudian rusak, mereka yang rugi,” tuturnya.

Panggah Susanto, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, sebelumnya mengatakan pemerintah akan mengeluarkan aturan standarisasi untuk level teknologi pada industri hulu semen paling lambat semester II 2011.

Peraturan ini sedang di persiapkan guna efisiensi industri hilir serta memperkuat daya saing untuk industri. Sebab jika industri hulu teknologinya tidak efisien, boros energi, dan tidak ramah lingkungan, maka akan mempengaruhi efisiensi industri hilir. Sehingga teknologi di industri hulu perlu diseleksi dengan satu standar teknologi yang efisien.

“Prioritas pertama adalah standarisasi level teknologi untuk industri hulu. Industri hulu menjadi prioritas karena industri hulu akan menentukan efisiensi industri hilirnya,” ujar Panggah.

Menurut dia, aturan ini sangat penting untuk industri di hulu, karena jika hulunya berkembang, maka hilirnya juga akan berkembang. Apalagi bahan baku tambang di Indonesia berlimpah, sehingga dapat mendukung perkembangan industri hilir.

Regulasi dalam bentuk peraturan menteri perindustrian tersebut nantinya akan mengatur industri hulu strategis, seperti baja, semen dan petrokimia.

sumber : indonesiafinancetoday.com