Penjualan Semen di Dalam Negeri Triwulan III – 2012

Dengan melihat perkembangan berdasarkan data-data yang ada, sampai dengan Triwulan III tahun 2012 penjualan semen di dalam negeri masih terus menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pada bulan September 2012, angka penjualan semen di dalam negeri telah mencapai 5,1 juta ton. Angka tersebut merupakan pencapaian yang sangat signifikan dalam sejarah industri semen di Indonesia. Pertumbuhan pada bulan September 2012 adalah sebesar 34% apabila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2011, dimana angka penjualan masih berkisar 3,8 juta ton.

Sedangkan untuk periode Januari – September 2012 jumlah penjualan semen adalah sebesar 39,4 juta ton dengan pertumbuhan 15% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011.

Dari total penjualan tersebut, pulau Jawa masih mendominasi dengan penyerapan sebesar 55%, Sumatera 22%, Sulawesi dan Kalimantan masing-masing 7%, Bali Nustra 6%, serta Maluku – Papua 2%.

      Grafik penjualan semen pada tahun 2010, 2011,           dan 2012 Triwulan I, II dan III

Dari grafik disamping, jelas terlihat bahwa angka penjualan semen selama tahun 2012 yang digambarkan per tiga bulan mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Prosentase peningkatan dari masing-masing triwulan dibandingkan dengan periode tahun 2011 adalah sebagai berikut; Triwulan I meningkat sebesar 18%, Triwulan II 12%, dan Triwulan III 15%.

Tingginya angka penjualan semen tersebut memang tidak bisa lepas dari semakin bertumbuhnya proyek-proyek besar yang dilakukan secara bersamaan waktu pengerjaannya.

Dari beberapa proyek besar yang sedang berjalan saat ini antara lain adalah pembangunan beberapa ruas jalan tol dan non tol di Jawa khususnya Jabodetabek, proyek perluasan ataupun pembangunan bandara seperti di Jakarta, Bali dan Sumut. Selain daripada itu di wilayah timur Indonesia, pembangunan infrastruktur sebagai penghubung antara wilayah perkotaan dan pedesaan juga terus ditingkatkan sebagai wujud dari program Pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Beberapa proyek-proyek yang dikerjakan oleh swasta juga banyak mempengaruhi tingginya permintaan semen, yang kebanyakan pada sektor properti dan beberapa lagi adalah pembangunan perumahan, dimana hal ini adalah sebagai dampak dari turunnya tingkat suku bunga bank untuk kredit pemilikan rumah.

Pencapaian hingga akhir tahun 2012 yang sebelumnya ditargetkan sebesar 10%, besar kemungkinan akan terlampaui mengingat tren yang berkembang beberapa bulan terakhir ini cenderung terus mengalami peningkatan.

sumber data: Kemenperin dan ASI

Advertisements

Penjualan Semen di Indonesia periode Januari – Oktober 2011, masih fokus di Jawa

           

Pada periode Januari hingga Oktober penjualan semen di Indonesia per pulau terlihat terjadi pergeseran yang cukup kuat, dimana pada tahun 2010 penjualan semen di pulau Jawa hanya berkisar 53.8% dari total penjualan semen nasional, meningkat menjadi 55.2% dari total penjualan semen nasional. Ini menjadi bukti yang cukup kuat bahwa konsumsi semen nasional cenderung masih terfokus di pulau Jawa saja, hal itu terlihat dari grafik diatas yang menunjukkan penurunan dari pangsa pasar di pulau-pulau lainnya di Indonesia pada penjualan periode Januari – Oktober tahun ini, seperti di Sumatera dari 23.5% menjadi 23.0%, Kalimantan dari 7.1% menjadi 7.0%, Sulawesi dari 7.4% menjadi 7.3%, Bali-Nustra dari 5.9% menjadi 5.8% dan Maluku-Papua dari 2.3% menjadi 1.7%.

Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya pangsa pasar di pulau Jawa selain permintaan pasar yang memang cukup tinggi, juga disebabkan antara lain oleh pembangunan proyek-proyek baik swasta maupun pemerintah masih terfokus dan lebih banyak mengembangkan potensi yang ada di pulau Jawa seperti beberapa pembangunan properti, perumahan tempat tinggal, dan bahkan proyek infrastruktur pemerintah seperti pembangunan beberapa ruas jalan baik tol maupun non tol.

Selain itu beberapa produsen semen yang memiliki lokasi pabrik di Jawa seperti Semen Gresik dan Holcim, beberapa waktu ini masih terus berkonsentrasi untuk memperluas dan mengembangkan kemampuan produksinya dengan membangun beberapa pabrik baru guna meningkatkan kapasitasnya. Sehingga kemampuan untuk produksi serta distribusinya di luar pulau Jawa agak sedikit berkurang dan lebih cenderung berkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan pasar-pasar terdekat mereka yang berada di pulau Jawa. Diharapkan pada tahun 2012-2013 beberapa pabrik baru yang sedang dibangun sekarang ini sudah bisa beroperasi.

sumber: Kemenperin dan ASI.

Tarif Jalan Tol

Kemacetan yang parah menjadi hal yang biasa?

Dari seluruh ruas jalan tol di Indonesia, ada 25 ruas jalan tol yang sudah beroperasi dan 14 di antaranya akan mengalami penyesuaian tarif. Penyesuaian tarif tol adalah memang sudah sewajarnya dan diperlukan untuk membuat kepastian terhadap investasi jalan tol di Indonesia, mengingat bahwa jalan tol dibangun tidak murni hanya dari APBN saja, melainkan juga dari dukungan oleh pihak swasta (investor). Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Komunikasi Publik (Puskom) Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Waskito Pandu saat wawancara dengan wartawan di Jakarta.

“Dengan adanya dukungan dari pihak swasta, maka anggaran untuk jalan dari APBN bisa dialihkan untuk pembangunan dan pemeliharaan ruas-ruas jalan di daerah maupun di pelosok-pelosok” jelasnya.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum akan melakukan evaluasi dan penyesuaian/kenaikan tarif terhadap 14 ruas tol di Indonesia, yakni :

  • Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (panjang 59 km)
  • Tol Jakarta – Tangerang (33 km)
  • Tol dalam kota Padalarang – Cileunyi (64,4 km)
  • Tol Semarang Seksi A,B,C (24,75 km)
  • Tol Surabaya – Gempol (49 km)
  • Tol Palimanan – Kanci (26,3 km)
  • Tol Cikampek – Purwakarta – Padalarang / Cipularang (58,5 km)
  • Tol Belawan – Medan – Tanjung Morawa (42,70 km)
  • Tol Serpong – Pondok Aren (7,25 km)
  • Tol Tangerang – Merak (72,45 km)
  • Tol Ujung Pandang tahap I dan II (6,05 km), dan
  • Tol Ulujami – Bintaro (5,55 km).

Dalam kesempatan tersebut, Pandu juga mengatakan bahwa besaran penyesuaian tarif tol adalah melalui perhitungan laju inflasi yang berdasarkan indeks harga konsumen (IHK) regional yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan dipengaruhi oleh panjang jalan. Penyesuaian tarif tol ini juga pastinya akan diimbangi dengan pelayanan yang lebih baik bagi para pengguna. Salah satu contoh nyatanya adalah adanya pelebaran ruas-ruas jalan. “Misalnya seperti Jakarta – Cikampek,  sekarang semua sudah tiga lajur, dari yang tadinya hanya dua lajur “ ujarnya.  (dikutip dari : http://www.bpjt.net).

Semoga….(Penyesuaian tarif tol ini juga pastinya akan diimbangi dengan pelayanan yang lebih baik bagi para pengguna).

 

Pasar Semen di Sumatra tahun 2011

Grafik Tren Penjualan Semen di Sumatra ('000 ton) tahun 2007-2011

Hingga bulan Agustus 2011, penjualan semen di wilayah Sumatra masih tumbuh positif dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, pertumbuhan yang dicapai sebesar 12% adalah merupakan dampak dari sedang dilakukannya pembangunan fisik dari sarana dan prasarana pendukung beberapa acara olah raga yang akan berlangsung tahun ini yang antara lain adalah SEA GAMES 2011 di kota Palembang, Sumsel. Selain itu di Riau juga akan diselenggarakan PON dan saat ini masih terus dilakukan pembangunan sarana pendukungnya.

Demikian juga dengan pembangunan serta perbaikan beberapa ruas jalan dan jembatan saat ini juga sedang berlangsung, dan diperkirakan masih terus tumbuh mengingat Pemerintah semakin menggiatkan pembangunan sektor infrastruktur terutama yang berkaitan dengan sarana transportasi darat.

Khusus untuk propinsi Sumbar yang beberapa waktu lalu terkenan musibah gempa, rehabilitasi dan pembangunan kembali bangunan-bangunan hingga saat ini juga masih terus berlangsung.

Namun demikian masih ada beberpa hal yang menggangu kelancaran distribusi semen di Sumatra yang antara lain adalah dengan adanya peraturan pembatasan jumlah beban angkut, yang dirasakan sangat memberatkan bagi para pengguna jasa angkutan tersebut dan sangat berpengaruh pada biaya distribusi.

sumber : data Kementerian Perindustrian dan ASI yang diolah.