Pertumbuhan 18% di Tahun 2011

Selama tahun 2011 yang baru saja berlalu, industri semen Indonesia menunjukkan tingkat pertumbuhan yang begitu signifikan sebesar 18% apabila dibandingkan dengan tahun 2010 dengan jumlah volume mencapai 47,9 juta ton. Angka tersebut adalah pencapaian sekitar 91% dari total kapasitas terpasang yang ada saat ini. Seperti diketahui bahwa kapasitas terpasang untuk industri semen hingga saat ini adalah 53 juta ton dari 9 pabrik.

Jika kita melihat perjalanan industri semen selama 10 tahun terakhir seperti pada grafik, terlihat bahwa pertumbuhan pada tahun 2011 merupakan tingkat pertumbuhan yang tertinggi, dimana pencapaian tertinggi sebelumnya pernah dicapai yaitu pada tahun 2001 yaitu sebesar 15% setelah sebelumnya didera krisis ekonomi sejak tahun 1997 hingga 1999. Sedangkan titik terendah dari pertumbuhan industri semen adalah pada tahun 2009 dengan prosentase hanya sebesar 1%. Jika dirata-ratakan angka prosentase pertumbuhannya selama 10 tahun tersebut adalah sekitar 8%. Dengan dimulainya beberapa proyek infrastruktur secara besar-besaran dan dalam waktu yang bersamaan pada pertengahan tahun 2011 menyebabkan permintaan semen meningkat begitu tajam.

Pertumbuhan tertinggi pada tahun 2011 terjadi di wilayah Jawa dengan tingkat pertumbuhan sebesar 21%. Hal ini terjadi karena fokus dari pembangunan masih berpusat di Jawa terutama di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten, seperti pembangunan beberapa ruas jalan tol yang, properti, serta perumahan yang terus semakin marak. Di beberapa wilayah lainnya juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, seperti di Sumatera 14%, Kalimantan 17%, Sulawesi 16%, serta Bali-Nusa Tenggara 19%. Sementara itu untuk wilayah yang masih mengalami penurunan hanya terjadi di Papua yaitu sekitar 29%, hal disebabkan karena masih sering terkendalanya angkutan semen ke beberapa pasar yang ada di sana akibat dari kurangnya sarana dan prasarana transportasi baik darat maupun laut, sehingga distribusi semen sering terhambat.

Berdasarkan beberapa data serta informasi yang coba saya himpun, tidak menutup kemungkinan bahwa pada tahun 2012 ini yang baru berjalan beberapa hari, pertumbuhan semen masih akan mengalami peningkatan walaupun tidak sebesar peningkatan tahun 2011. Dengan melihat serta mencermati berbagai indikator yang menyebabkan penguatan permintaan semen masih terus berlangsung, salah satunya adalah program MP3EI yang dicanangkan oleh Pemerintah dengan percepatan pembangunan infrastrukturnya, maka sangat dimungkinkan bahwa pertumbuhan antara 8% hingga 10% masih dapat tercapai di tahun 2012 ini dengan kesiapan dan kemampuan dari industri semen di Indonesia untuk mendukung program tersebut.

sumber : ASI dan Kementerian PU.

Advertisements

Hingga November 2011 Konsumsi Semen Masih Sangat Tinggi

ilustrasi proyek pembangunan jalan tol

Beberapa bulan terakhir ini menjelang tutup tahun, kondisi pasar semen di dalam negeri masih terus menunjukkan tingkat pertumbuhan yang tinggi, bahkan di beberapa wilayah terjadi gejolak harga akibat dari kurangnya pasokan dan keterlambatan distribusi semen. Peningkatan tersebut dipicu oleh pembangunan infrastruktur dalam skala besar secara bersamaan waktunya dan juga permintaan semen oleh masyarakat untuk sektor perumahan tempat tinggal juga meningkat dengan pesat.

Grafik trend penjualan semen per bulan tahun 2010-2011

Hingga pada periode Januari – November 2011, penjualan semen didalam negeri telah mencapai angka 43,4 juta ton dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17.8% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. Angka ini mencerminkan bahwa pada tahun 2011 selama 11 bulan peningkatan penjualan semen di dalam negeri begitu agresif. Jika hal ini terus terjadi, tidak menutup kemungkinan pada beberapa bulan kedepan Indonesia akan mengalami krisis semen.

Kapasitas terpasang dari industri semen nasional saat ini adalah 53 juta ton dari sembilan produsen yang ada saat ini. Untuk periode Januari hingga November kemampuan produksi rata-rata sudah mencapai lebih kurang 85% yaitu dengan angka penjualan sebesar 44,5 juta ton. Itupun dirasakan masih ada beberapa wilayah yang tidak dapat dipenuhi permintaan semennya karena tingginya permintaan semen di seluruh Indonesia, sehingga pihak produsen pun sedikit keteteran untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar dan lebih mengutamakan pasar yang lokasinya dekat dengan pabrik.

Bahkan pada berita yang dimuat di detik.com tgl. 19 Desember 2011 yang lalu, Ketua ASI menyatakan bahwa jika diperlukan produsen semen dapat melakukan impor produk semen setengah jadi atau biasa disebut clinker, untuk kemudian digiling dan dipasarkan di pasar domestik guna meredam gejolak pasar yang begitu tinggi pada beberapa waktu mendatang.

sumber: Kemenperin dan ASI.

Penjualan Semen di Indonesia periode Januari – Oktober 2011, masih fokus di Jawa

           

Pada periode Januari hingga Oktober penjualan semen di Indonesia per pulau terlihat terjadi pergeseran yang cukup kuat, dimana pada tahun 2010 penjualan semen di pulau Jawa hanya berkisar 53.8% dari total penjualan semen nasional, meningkat menjadi 55.2% dari total penjualan semen nasional. Ini menjadi bukti yang cukup kuat bahwa konsumsi semen nasional cenderung masih terfokus di pulau Jawa saja, hal itu terlihat dari grafik diatas yang menunjukkan penurunan dari pangsa pasar di pulau-pulau lainnya di Indonesia pada penjualan periode Januari – Oktober tahun ini, seperti di Sumatera dari 23.5% menjadi 23.0%, Kalimantan dari 7.1% menjadi 7.0%, Sulawesi dari 7.4% menjadi 7.3%, Bali-Nustra dari 5.9% menjadi 5.8% dan Maluku-Papua dari 2.3% menjadi 1.7%.

Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya pangsa pasar di pulau Jawa selain permintaan pasar yang memang cukup tinggi, juga disebabkan antara lain oleh pembangunan proyek-proyek baik swasta maupun pemerintah masih terfokus dan lebih banyak mengembangkan potensi yang ada di pulau Jawa seperti beberapa pembangunan properti, perumahan tempat tinggal, dan bahkan proyek infrastruktur pemerintah seperti pembangunan beberapa ruas jalan baik tol maupun non tol.

Selain itu beberapa produsen semen yang memiliki lokasi pabrik di Jawa seperti Semen Gresik dan Holcim, beberapa waktu ini masih terus berkonsentrasi untuk memperluas dan mengembangkan kemampuan produksinya dengan membangun beberapa pabrik baru guna meningkatkan kapasitasnya. Sehingga kemampuan untuk produksi serta distribusinya di luar pulau Jawa agak sedikit berkurang dan lebih cenderung berkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan pasar-pasar terdekat mereka yang berada di pulau Jawa. Diharapkan pada tahun 2012-2013 beberapa pabrik baru yang sedang dibangun sekarang ini sudah bisa beroperasi.

sumber: Kemenperin dan ASI.

Oktober 2011, Pertumbuhan Penjualan Semen Capai 16.9%

Tabel Penjualan Semen Domestik per Wilayah tahun 2010-2011

Meskipun berbagai kendala dari sisi distribusi masih terus membayangi kelancaran penjulan semen di dalam negeri, namun penjualan semen tetap menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dengan pertumbuhan sebesar 16.9% untuk periode Januari – Oktober 2011 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010 dengan volume sebesar 38,9 juta ton. Sementara pada bulan Oktober penjualan semen mencapai 4,6 juta ton dengan tingkat pertumbuhan sebesar 21.5% apabila dibandingkan dengan bulan September 2011, hal ini merupakan rekor tersendiri selama 5 tahun terakhir penjualan semen di Indonesia.

Secara umum peningkatan penjualan semen tersebut dipicu oleh tingginya permintaan pasar untuk pembangunan sektor properti dan perumahan-perumahan yang dilakukan kontraktor swasta, sementara untuk pembangunan infrastruktur beberapa proyek besar boleh dibilang baru dimulai beberapa bulan belakangan ini.

Di wilayah Sumatera pembangunan beberapa fasilitas olah raga sebagai pendukung kegiatan Sea Games di Palembang, PON di Riau menjadikan pemicu tingginya penjualan semen di wilayah tersebut. Selain beberapa proyek lainnya seperti pembangunan bandara di Kualanamu juga masih terus berjalan meskipun agak perlahan.

Sedangkan di Jawa terutama DKI, Jabar dan Banten, pembangunan berbagai jenis properti seperti perumahan, apartemen, dan mal terus menunjukkan peningkatan sehingga permintaan akan semen pun terus melambung tinggi dengan pertumbuhan sampai dengan Oktober pada masing-masing daerah tersebut adalah sebesar 25.5%, 37.4% dan 22.6%. Pada bulan Oktober penjualan semen di Jawa mencapai 2,6 juta ton dan hingga sepuluh bulan terakhir pertumbuhannya sudah mencapai 20.1% bila dibandingkan dengan tahun 2010. Beberapa catatan penting yang sering menjadi masalah dalam pendistribusian semen di wilayah ini adalah adanya pembatasan angkutan semen terutama untuk truk pengangkut yang melewati jalan tol dalam kota di Jakarta dan juga tingginya antrian bongkar muat di beberapa pelabuhan di Jawa seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak.

Diluar Jawa dan Sumatera, pertumbuhan penjualan semen juga masih terasa cukup tinggi seperti di Kalimantan 15.6%, Sulawesi 15.3% serta Bali-Nustra 13.7%. Sementara diujung timur Indonesia yaitu di Maluku dan Papua penjualan semen menunjukkan penuruhan sebesar 27.4% yang antara lain disebabkan sulitnya untuk mendapatkan kapal pengangkut semen ke wilayah tersebut.

sumber: Kemenperin dan ASI

Jembatan Kelok Sembilan

Kelok-9 adalah ruas jalan lintas tengah Sumatra yang menghubungkan propinsi Riau dengan propinsi Sumatra Barat. Kelok-9 terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, sekitar 25km dari kota Payakumbuh ke arah Pekanbaru (Riau). Dinamakan Kelok-9 karena jalan ini yang bentuknya berkelok-kelok sebanyak 9 buah kelokan. Kelok-9 ini merupakan salah satu tempat peristirahatan favorit bagi para pengendara dari Riau menuju Sumbar terutama pengendara motor karena dapat melepas penat sejenak sambil menikmati pemandangan. Pada jalur yang sempit dan selalu macet pada waktu mudik menjelang lebaran, sejak tahun 2003 dimulailah megaproyek 5 tahunan pembangunan Jembatan Kelok 9. Namun karena akibat kurangnya dana, jembatan tersebut belum selesai hingga sekarang. Pemerintah mentargetkan tahun 2011 ini jembatan tersebut selesai.

Ruas jalan Bukttinggi – Pekanbaru adalah ruas jalan Nasional dan merupakan jalan penghubung lintas tengah Sumatra dengan Pantai Timur Sumatra (Padang-Dumai). Kelok-9 terletak pada ruas jalan tersebut, tepatnya pada KM143 – KM148 dari Padang yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan berat truk gandeng maupun trailer.

Dalam pertemuan IMS – GT (Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle) dinyatakan betapa pentingnya jalur strategis Padang-Dumai atau Bukittinggi-Pekanbaru untuk arus barang dan jasa guna mengakomodasi pertumbuhan ekonomi.

Moda angkutan transportasi yang paling tepat untuk jalur strategis tersebut (Bukittinggi-Pekanbaru) adalah moda angkutan darat karena jarak yang relatif pendek +220km. Sekarang ini pertumbuhan lalu lintas angkutan darat dari Bukittinggi-Pekanbaru sudah mencapai +6% pertahun dengan rata-rata 7,900 kendaraan/hari, dan tidak mungkin akan tersaingi dengan moda angkutan lain. Perbaikan jalan Kelok-9 adalah pilihan yang paling tepat untuk dilaksanakan, sehingga kendaraan truk gandeng dan trailer dapat berjalan lancar.

Selain berfungsi sebagai penghubung Sumatra Barat dengan Riau, jembatan Kelok-9 di Kabupaten Limapuluh Kota juga akan dibangun obyek tujuan wisata. Desain jembatan Kelok-9 akan dibuat menarik sehingga menjadi tujuan wisata atau lokasi peristirahatan bagai para pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Jembatan Kelok-9 terdiri dari enam jembatan dengan total panjang 963 m, menghubungkan Sumbar dengan perbatasan Riau dan dijadwalkan selesai 2009. Kelok-9 Sumbar merupakan salah satu jalur pada lalu lintas kendaraan tiap harinya yang rawan kemacetan terutama pada hari libur nasional dan hari besar lainnya seperti lebaran dan natal. Kondisi jalan itu kini sangat sempit, macet dan terjal serta rawan terjadi kecelakaan. Lokasi ini juga merupakan jalur ekonomi kedua daerah Sumbar dan Riau, terutama bagi pedagang dari Riau untuk membeli konveksi di kota Bukittinggi dan Padang.

Diharapkan infrastruktur ini akan bisa menampung kegiatan lalulintas harian rata-rata 6,800 unit kendaraan per hari pada hari biasa dan 11,350 unit kendaraan per hari pada hari libur. Selain itu kelancaran distribusi untuk barang dan jasa juga bisa menjadikan salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada wilayah yang terhubung oleh jembatan tersebut.

Sumber: Warta Semen dan Beton Indonesia

Ekspor Semen dari Indonesia Terus Menurun

Seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan semen domestik, penjualan semen untuk pasar ekspor dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini menunjukkan tren penurunan yang cukup drastis.

Pada tahun 2009, rata-rata ekspor semen dari Indonesia perbulan bisa mencapai 180 ribu ton, demikian juga pada tahun 2010. Namun dengan terus meningkatnya kebutuhan semen di dalam negeri maka sebagian besar alokasi semen untuk pasar ekspor lambat laun terus menunjukkan penurunan sebagaimana terlihat pada grafik diatas.

Pada tahun 2011 ini pada periode Januari hingga Agustus penjualan semen untuk ekspor hanya berkisar 170 ribu ton saja, beberapa produsen semen malah sudah tidak melakukan ekspor semen sama sekali dan lebih berkonsentrasi untuk penjualan di dalam negeri.

Jan-Ags 2011, Pertumbuhan Penjualan Semen Masih diatas 10%

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kemenperin dan ASI, penjualan semen dalam negeri pada periode Januari hingga Agustus 2011 masih menunjukkan persentase yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. Peningkatan selama 8 bulan ini mencapai 13,1%, yang masih diatas angka estimasi yang pernah direalease sebelumnya yaitu 10%.

Jika diamati angka pertumbuhan yang dicapai masing-masing perusahaan pada periode Januari – Agustus tahun 2011 ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, beberapa produsen membukukan penjualan yang sangat tinggi antara lain:  Holcim 30% dan Bosowa 21%.  Kemudian diikuti oleh Indocement 13%, Andalas 11% dan Baturaja 10%. Sedangkan Gresik Grup yang saat ini sedang melakukan pengembangan pabrik-pabrik barunya,  pertumbuhannya hanya dibawah 10%,  masing-masing Tonasa 9%, Gresik 7%, serta Padang 6%.