Industri Semen Dalam Negeri Tahun 2014

Tingginya permintaan semen dalam negeri yang terjadi pada tahun 2012 dan dilanjutkan 2013, masih terus menunjukkan pertumbuhan yang positif di tahun 2014 ini, meskipun peningkatannya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Banyak kendala-kendala yang mengakibatkan atau menghambat lambatnya pertumbuhan permintaan semen di dalam negeri. beberapa faktor penyebabnya antara lain adalah sebagian besar proyek-proyek Pemerintah terutama untuk infrastruktur masih banyak yang belum berjalan sesuai rencana karena lambatnya pencairan anggaran ataupun adanya kendala lain seperti masalah pembebasan lahan.

Kondisi tersebut kurang menguntungkan bagi para produsen semen terutama yang dalam tiga tahun terakhir ini terus melakukan persiapan-persiapan baik dalam bentuk melakukan pengembangan kapasitas terasang yang ada maupun dengan melakukan investasi dengan pembangunan pabrik-pabrik baru guna mendukung atau mencukupi lonjakan kebutuhan semen yang diperkirakan akan terjadi dalam 2-3 tahun ke depan.

Kapasitas terpasang yang dimiliki industri semen di dalam negeri saat ini adalah 71,6 juta ton dengan jumlah permintaan domestik tahun 2014 diperkirakan akan mencapai 60 juta ton. Pertumbuhan hanya akan mencapai kisaran 3-4% apabila dibandingkan dengan tahun 2013 dengan volume sebesar 58 juta ton. Hingga tahun 2016 diperkirakan Indonesia akan memiliki kapasitas terpasang yang hampir mencapai 100 juta ton atau tepatnya 98,7 juta ton.

Dari kapasitas yang cukup besar tersebut dan melihat peningkatan rata-rata kebutuhan semen dalam negeri yang agak melambat, sedikit timbul keraguan atau pertanyaan besar, mau ‘dilempar’ kemana kelebihan semen yang ada, mengingat kondisi pasar global juga cenderung belum membaik. Harapan besar hanya bisa bertumpu pada Pemerintahan baru yaitu dengan terus menggenjot dalam skala besar pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang sebelumnya berjalan sangat lambat, karena jika tidak maka nasib industri semen di dalam negeri bisa seperti China maupun Vietnam yang secara perlahan mati satu persatu akibat dari tidak mampunya pasar di dalam negeri menyerap jumlah produksi yang ada.

sumber data: Kemenperin dan ASI.

Konsumsi Semen di Jawa Mencapai 19.2%

Pada periode Januari hingga September 2011, angka konsumsi semen khususnya di wilayah pulau Jawa menunjukkan tingkat pertumbuhan yang begitu tinggi bila dibandingkan dengan angka pada tahun 2010. Pertumbuhan yang dicapai pada periode tersebut adalah sebesar 19.2% dengan volume sebesar 18,8 juta ton, dimana tahun 2010 volume konsumsi semen semen di Jawa adalah sebesar 15,8 juta ton untuk periode Januari hingga September.

Peningkatan konsumsi yang terbesar di Jawa terutama dipicu tingginya tingkat   pembangunan pada sektor properti terutama pada pembangunan gedung-gedung perkantoran dan perumahan (apartemen) seperti yang terjadi pada sebagian wilayah di Jabodetabek. Tingkat pertumbuhan konsumsi semen di Banten seperti terlihat pada tabel adalah mencapai 35.7% dan di Jakarta mencapai 26.1%. Sedangkan DIY 24.8%, Jabar 21.5% dan Jateng 17.7%. Sementara itu untuk wilayah Jatim pertumbuhannya hanya mencapai 6.6%.

Secara umum peningkatan konsumsi semen di Jawa memang menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi, dan hal ini pula yang menjadi pemicu tingginya pertumbuhan semen secara nasional karena memang dari sisi volume konsumsi di Jawa adalah yang terbesar bila dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia.

Dalam tiga bulan kedepan tingkat pertumbuhan konsumsi semen di Jawa diprediksi masih sangat tinggi, mengingat beberapa proyek pembangunan infrastruktur sebagian besar telah dimulai ditambah pula oleh masih terus berlanjutnya pembangunan yang dilakukan oleh pihak swasta seperti pada sektor properti dan perumahan yang akan semakin membuat tingkat permintaan semen melambung.

Hal inilah yang membuat beberapa pemain besar seperti Indocement, Holcim dan Gresik, terus berusaha untuk meningkatkan kemampuan produksinya agar tetap menjadi ‘leader market’ di wilayah Jawa, mengingat potensi pasar yang ada di Jawa masih akan terus bertumbuh.

sumber data: Kemenperin dan ASI

Triwulan-3 tahun 2011, Penjualan Semen Masih Tinggi

Penjualan semen domestik pada triwulan-3 tahun 2011 masih terlihat cukup tinggi dan diprediksi akan terus bertumbuh seiring dengan mulai bergeraknya pembangunan infrastruktur di beberapa wilayah di Indonesia dan semakin tingginya pertumbuhan pembangunan pada sektor properti dan perumahan.

Jika diamati perkembangan angka penjualan semen per triwulan tahun 2011, sangatlah terlihat bahwa permintaan semen di dalam negeri sangat tinggi karena rata-rata pada setiap triwulan mencapai angka diatas 10 juta ton atau bahkan mendekati angka 12 juta ton. Angka tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tahun 2010 yang hanya berada pada kisaran angka 8-9 juta ton setiap triwulannya. Apabila kondisi seperti ini berlangsung terus hingga akhir tahun 2011, maka bisa diperkirakan bahwa hingga akhir tahun ini penjualan semen akan mencapai angka pertumbuhan diatas 12% atau dengan volume yang hampir mendekati 45 juta ton.

Hal tersebut perlu menjadi perhatian bagi para pemain industri semen, mengingat perhitungan yang ada bahwa kapasitas terpasang nasional industri semen adalah lebih kurang 50 juta ton, artinya hanya ada tersisa 5 juta ton sebagai cadangan untuk memenuhi permintaan pasar di dalam negeri. Jika tahun ini permintaan semen diperkirakan mencapai 45 juta ton dan tahun 2012 permintaan semen diproyeksikan mengalami pertumbuhan 10% atau sebesar 50 juta ton, maka kemungkinan besar Indonesia akan mengalami ‘shortage‘ semen jika tidak ada penambahan ataupun peningkatan dari kapasitas terpasang yang ada sekarang ini.

Selain itu juga diperlukan dukungan yang kuat dari Pemerintah untuk terus mendorong tingkat investasi pada industri semen, baik dengan jalan memberikan kemudahan-kemudahan dari sisi perizinan maupun dari pemberian insentif lainnya, agar para investor merasa nyaman berinvestasi pada industri semen, mengingat membangun sebuah pabrik semen sangat dibutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Besar harapan masyarakat bahwa dengan tingkat konsumsi semen dalam negeri yang semakin tinggi juga didukung dengan ketersediaannya pasokan yang tepat waktu dan tentunya juga dengan harga yang terjangkau.

sumber data: Kemenperin dan ASI.

 

 

 

 

Jembatan Kelok Sembilan

Kelok-9 adalah ruas jalan lintas tengah Sumatra yang menghubungkan propinsi Riau dengan propinsi Sumatra Barat. Kelok-9 terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, sekitar 25km dari kota Payakumbuh ke arah Pekanbaru (Riau). Dinamakan Kelok-9 karena jalan ini yang bentuknya berkelok-kelok sebanyak 9 buah kelokan. Kelok-9 ini merupakan salah satu tempat peristirahatan favorit bagi para pengendara dari Riau menuju Sumbar terutama pengendara motor karena dapat melepas penat sejenak sambil menikmati pemandangan. Pada jalur yang sempit dan selalu macet pada waktu mudik menjelang lebaran, sejak tahun 2003 dimulailah megaproyek 5 tahunan pembangunan Jembatan Kelok 9. Namun karena akibat kurangnya dana, jembatan tersebut belum selesai hingga sekarang. Pemerintah mentargetkan tahun 2011 ini jembatan tersebut selesai.

Ruas jalan Bukttinggi – Pekanbaru adalah ruas jalan Nasional dan merupakan jalan penghubung lintas tengah Sumatra dengan Pantai Timur Sumatra (Padang-Dumai). Kelok-9 terletak pada ruas jalan tersebut, tepatnya pada KM143 – KM148 dari Padang yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan berat truk gandeng maupun trailer.

Dalam pertemuan IMS – GT (Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle) dinyatakan betapa pentingnya jalur strategis Padang-Dumai atau Bukittinggi-Pekanbaru untuk arus barang dan jasa guna mengakomodasi pertumbuhan ekonomi.

Moda angkutan transportasi yang paling tepat untuk jalur strategis tersebut (Bukittinggi-Pekanbaru) adalah moda angkutan darat karena jarak yang relatif pendek +220km. Sekarang ini pertumbuhan lalu lintas angkutan darat dari Bukittinggi-Pekanbaru sudah mencapai +6% pertahun dengan rata-rata 7,900 kendaraan/hari, dan tidak mungkin akan tersaingi dengan moda angkutan lain. Perbaikan jalan Kelok-9 adalah pilihan yang paling tepat untuk dilaksanakan, sehingga kendaraan truk gandeng dan trailer dapat berjalan lancar.

Selain berfungsi sebagai penghubung Sumatra Barat dengan Riau, jembatan Kelok-9 di Kabupaten Limapuluh Kota juga akan dibangun obyek tujuan wisata. Desain jembatan Kelok-9 akan dibuat menarik sehingga menjadi tujuan wisata atau lokasi peristirahatan bagai para pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Jembatan Kelok-9 terdiri dari enam jembatan dengan total panjang 963 m, menghubungkan Sumbar dengan perbatasan Riau dan dijadwalkan selesai 2009. Kelok-9 Sumbar merupakan salah satu jalur pada lalu lintas kendaraan tiap harinya yang rawan kemacetan terutama pada hari libur nasional dan hari besar lainnya seperti lebaran dan natal. Kondisi jalan itu kini sangat sempit, macet dan terjal serta rawan terjadi kecelakaan. Lokasi ini juga merupakan jalur ekonomi kedua daerah Sumbar dan Riau, terutama bagi pedagang dari Riau untuk membeli konveksi di kota Bukittinggi dan Padang.

Diharapkan infrastruktur ini akan bisa menampung kegiatan lalulintas harian rata-rata 6,800 unit kendaraan per hari pada hari biasa dan 11,350 unit kendaraan per hari pada hari libur. Selain itu kelancaran distribusi untuk barang dan jasa juga bisa menjadikan salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada wilayah yang terhubung oleh jembatan tersebut.

Sumber: Warta Semen dan Beton Indonesia

Setelah 3 Tahun Terus Meningkat, Selanjutnya…???

Menyambung posting sebelumnya mengenai penurunan volume ekspor, pada tulisan ini digambarkan bagaimana kondisi penjualan semen domestik selama 3 tahun terkahir, dimana pada tahun 2009 dan 2010 rata-rata penjualan semen domestik perbulannya masih berada pada kisaran 3,5juta ton sampai 4 juta ton.

Saat ini penjualan semen domestik sudah menunjukkan angka pada level 4 juta ton sampai dengan 4,5 juta ton per bulannya, gambaran angka penjualan tersebut juga mencerminkan betapa tingginya kebutuhan semen di dalam negeri saat ini yang kemungkinan besar akan terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan. Bahkan selama kurun waktu 30 tahun industri semen berjalan, angka penjualan semen nasional belum pernah mencapai 4,3 juta ton, yaitu penjualan pada bulan Juli 2011.

Jika mengamati gambaran tersebut diatas, perlu kiranya menjadi perhatian terutama bagi Pemerintah, untuk terus mendorong para produsen segera melakukan penambahan kapasitas produksi dari industri semen yang ada sekarang ini atau melakukan pembangunan pabrik semen baru. Hal ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak tergantung pada produk semen impor di tahun-tahun mendatang.

Mencoba menjawab ‘tanda tanya’ dari judul tulisan ini… Selanjutnya kedepan industri semen Indonesia semakin mampu menjadi industri yang dapat menghasilkan produk yang dicintai oleh masyarakat, tentunya produk dengan  harga yang terjangkau, terjamin kualitas serta kelancaran pasokannya.

Semoga….

 

Penjualan Semen Agustus 2011

Seperti diprediksi sebelumnya, penjualan semen dalam negeri secara umum pada bulan Agustus 2011 ini ‘melorot’ tajam bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, penurunan hingga 18%  ini disebabkan karena bersamaan dengan bulan puasa yang dilanjutkan dengan libur lebaran. Namun apabila dibandingkan dengan bulan Agustus 2010 angka volumenya tidak mengalami perbedaan yang signifikan. Sedangkan secara komulatif selama 8 bulan, penjualan semen di dalam negeri masih menunjukkan peningkatan yang tinggi, yaitu mencapai 13%.

Sampai dengan bulan Agustus 2011, daerah-daerah yang terus menunjukkan peningkatan antara lain Jawa 15%, Sumatera 12%, Kalimantan 11.5%, Sulawesi 13%, Bali-Nustra 9%, dan hanya Maluku-Papua saja yang mengalami penurunan sebesar 11%.

Sumber: ASI dan Perindustrian.