Jembatan Kelok Sembilan

Kelok-9 adalah ruas jalan lintas tengah Sumatra yang menghubungkan propinsi Riau dengan propinsi Sumatra Barat. Kelok-9 terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, sekitar 25km dari kota Payakumbuh ke arah Pekanbaru (Riau). Dinamakan Kelok-9 karena jalan ini yang bentuknya berkelok-kelok sebanyak 9 buah kelokan. Kelok-9 ini merupakan salah satu tempat peristirahatan favorit bagi para pengendara dari Riau menuju Sumbar terutama pengendara motor karena dapat melepas penat sejenak sambil menikmati pemandangan. Pada jalur yang sempit dan selalu macet pada waktu mudik menjelang lebaran, sejak tahun 2003 dimulailah megaproyek 5 tahunan pembangunan Jembatan Kelok 9. Namun karena akibat kurangnya dana, jembatan tersebut belum selesai hingga sekarang. Pemerintah mentargetkan tahun 2011 ini jembatan tersebut selesai.

Ruas jalan Bukttinggi – Pekanbaru adalah ruas jalan Nasional dan merupakan jalan penghubung lintas tengah Sumatra dengan Pantai Timur Sumatra (Padang-Dumai). Kelok-9 terletak pada ruas jalan tersebut, tepatnya pada KM143 – KM148 dari Padang yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan berat truk gandeng maupun trailer.

Dalam pertemuan IMS – GT (Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle) dinyatakan betapa pentingnya jalur strategis Padang-Dumai atau Bukittinggi-Pekanbaru untuk arus barang dan jasa guna mengakomodasi pertumbuhan ekonomi.

Moda angkutan transportasi yang paling tepat untuk jalur strategis tersebut (Bukittinggi-Pekanbaru) adalah moda angkutan darat karena jarak yang relatif pendek +220km. Sekarang ini pertumbuhan lalu lintas angkutan darat dari Bukittinggi-Pekanbaru sudah mencapai +6% pertahun dengan rata-rata 7,900 kendaraan/hari, dan tidak mungkin akan tersaingi dengan moda angkutan lain. Perbaikan jalan Kelok-9 adalah pilihan yang paling tepat untuk dilaksanakan, sehingga kendaraan truk gandeng dan trailer dapat berjalan lancar.

Selain berfungsi sebagai penghubung Sumatra Barat dengan Riau, jembatan Kelok-9 di Kabupaten Limapuluh Kota juga akan dibangun obyek tujuan wisata. Desain jembatan Kelok-9 akan dibuat menarik sehingga menjadi tujuan wisata atau lokasi peristirahatan bagai para pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Jembatan Kelok-9 terdiri dari enam jembatan dengan total panjang 963 m, menghubungkan Sumbar dengan perbatasan Riau dan dijadwalkan selesai 2009. Kelok-9 Sumbar merupakan salah satu jalur pada lalu lintas kendaraan tiap harinya yang rawan kemacetan terutama pada hari libur nasional dan hari besar lainnya seperti lebaran dan natal. Kondisi jalan itu kini sangat sempit, macet dan terjal serta rawan terjadi kecelakaan. Lokasi ini juga merupakan jalur ekonomi kedua daerah Sumbar dan Riau, terutama bagi pedagang dari Riau untuk membeli konveksi di kota Bukittinggi dan Padang.

Diharapkan infrastruktur ini akan bisa menampung kegiatan lalulintas harian rata-rata 6,800 unit kendaraan per hari pada hari biasa dan 11,350 unit kendaraan per hari pada hari libur. Selain itu kelancaran distribusi untuk barang dan jasa juga bisa menjadikan salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada wilayah yang terhubung oleh jembatan tersebut.

Sumber: Warta Semen dan Beton Indonesia

Advertisements

Pasar Semen di Sumatra tahun 2011

Grafik Tren Penjualan Semen di Sumatra ('000 ton) tahun 2007-2011

Hingga bulan Agustus 2011, penjualan semen di wilayah Sumatra masih tumbuh positif dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, pertumbuhan yang dicapai sebesar 12% adalah merupakan dampak dari sedang dilakukannya pembangunan fisik dari sarana dan prasarana pendukung beberapa acara olah raga yang akan berlangsung tahun ini yang antara lain adalah SEA GAMES 2011 di kota Palembang, Sumsel. Selain itu di Riau juga akan diselenggarakan PON dan saat ini masih terus dilakukan pembangunan sarana pendukungnya.

Demikian juga dengan pembangunan serta perbaikan beberapa ruas jalan dan jembatan saat ini juga sedang berlangsung, dan diperkirakan masih terus tumbuh mengingat Pemerintah semakin menggiatkan pembangunan sektor infrastruktur terutama yang berkaitan dengan sarana transportasi darat.

Khusus untuk propinsi Sumbar yang beberapa waktu lalu terkenan musibah gempa, rehabilitasi dan pembangunan kembali bangunan-bangunan hingga saat ini juga masih terus berlangsung.

Namun demikian masih ada beberpa hal yang menggangu kelancaran distribusi semen di Sumatra yang antara lain adalah dengan adanya peraturan pembatasan jumlah beban angkut, yang dirasakan sangat memberatkan bagi para pengguna jasa angkutan tersebut dan sangat berpengaruh pada biaya distribusi.

sumber : data Kementerian Perindustrian dan ASI yang diolah.