Senyum Akting ‘Sang Jagoan’

Tetaplah Tersenyum

Tetaplah Tersenyum

Umurnya baru 7 tahun pada bulan Agustus kemarin, tapi buah hati yang satu ini sudah mulai jelas terlihat sifat keras pada sesuatu yang ia inginkan atau yang ia kerjakan…

Kondisinya sekarang ini agak kurang sehat, sudah sejak seminggu yang lalu terserang panas yang diikuti dengan batuk, aku pikir itu wajar dan lumrah terjadi pada anak-anak seusianya. Apalagi udara Jakarta sekarang ini sudah semakin tidak bersahabat untuk kesehatan terutama anak-anak.

Kalau melihat anak-anak sakit, sudah pasti sebagai orang tua akan sedih bahkan sedikit stres, meskipun penyakitnya tidaklah terlalu membahayakan, wajar dong… Sudah pasti kita akan memberikan perhatian yang lebih dari biasanya dibandingkan ketika anak-anak dalam kondisi sehat.

Jagoan kecilku yang satu ini memang beda, ia tetap mau tersenyum meskipun dalam kondisi sakit, dan satu lagi yang membuatku merasa senang sekaligus bangga, dia tetap memaksakan dirinya untuk berangkat ke sekolah, walaupun ayah dan bundanya melarang…dia beralasan hari ini ada ulangan dan dia ingin sekali ikut ulangan sekaligus bisa bertemu teman-temannya, kangen katanya karena sudah hampir seminggu gak ke sekolah…

Di perjalanan selama menuju ke sekolah, dia tetap berusaha tunjukkan ke ‘sang ayah’ bahwa dirinya sudah sehat benar, dia juga sempat pilih-pilih CD lagu untuk didengarkan selama perjalanan ke sekolah…aku juga happy aja tanpa perasaan curiga ke dia sedikitpun.

Rupanya ada cerita lain, setibanya aku di kantor, bu gurupun telpon dan mengabarkan bahwa ‘sang jagoan’ badannya panas dan baru saja muntah-muntah di kelas, bu gurupun meminta supaya aku segera jemput sang jagoan ke sekolah.

Langsung lemas menerima telpon dari bu guru, ternyata hari ini sang jagoan telah ‘berakting’ dengan baik dan membuatku begitu tak kuasa menahannya untuk tidak berangkat ke sekolah.

Tulisan diatas sebenarnya hanya sedikit contoh atau kasus yang sering terjadi pada anak-anak yang terutama pada usia sekolah dasar. Mereka kadang-kadang begitu kuat keinginannya untuk berada di lingkungan sekolah berkumpul bersama teman-teman dan gurunya, mereka merasa di sekolah lebih bisa mengekspresikan perasaan yang sedang dirasakan ketimbang berada di rumah walaupun kondisinya sedang sakit. Mereka pun pandai berakting agar bisa berangkat ke sekolah, karena takut akan dilarang orang tua yang sebenarnya adalah sangat sayang dan perhatian pada mereka.

Itulah anak-anak… I love you kids..!!

Advertisements

Proses Produksi Semen

ilustrasi proses produksi semen

Langkah utama proses produksi semen

  1. Penggalian/Quarrying: Terdapat dua jenis material yang penting bagi produksi semen: yang pertama adalah yang kaya akan kapur atau material yang mengandung kapur (calcareous materials) seperti batu gamping, kapur, dll., dan yang kedua adalah yang kaya akan silika atau material mengandung tanah liat (argillaceous materials) seperti tanah liat. Batu gamping dan tanah liat dikeruk atau diledakkan dari penggalian dan kemudian diangkut ke alat penghancur.
  2. Penghancuran: Penghancur bertanggung jawab terhadap pengecilan ukuran primer bagi material yang digali.
  3. Pencampuran Awal: Material yang dihancurkan melewati alat analisis on-line untuk menentukan komposisi tumpukan bahan.
  4. Penghalusan dan Pencampuran Bahan Baku: Sebuah belt conveyor mengangkut tumpukan yang sudah dicampur pada tahap awal ke penampung, dimana perbandingan berat umpan disesuaikan dengan jenis klinker yang diproduksi. Material kemudian digiling sampai kehalusan yang diinginkan.
  5. Pembakaran dan Pendinginan Klinker: Campuran bahan baku yang sudah tercampur rata diumpankan ke pre-heater, yang merupakan alat penukar panas yang terdiri dari serangkaian siklon dimana terjadi perpindahan panas antara umpan campuran bahan baku dengan gas panas dari kiln yang berlawanan arah. Kalsinasi parsial terjadi pada pre‐heater ini dan berlanjut dalam kiln, dimana bahan baku berubah menjadi agak cair dengan sifat seperti semen. Pada kiln yang bersuhu 1350-1400 °C, bahan berubah menjadi bongkahan padat berukuran kecil yang dikenal dengan sebutan klinker, kemudian dialirkan ke pendingin klinker, dimana udara pendingin akan menurunkan suhu klinker hingga mencapai 100 °C.
  6. Penghalusan Akhir: Dari silo klinker, klinker dipindahkan ke penampung klinker dengan dilewatkan timbangan pengumpan, yang akan mengatur perbandingan aliran bahan terhadap bahan-bahan aditif. Pada tahap ini, ditambahkan gipsum ke klinker dan diumpankan ke mesin penggiling akhir. Campuran klinker dan gipsum untuk semen jenis 1 dan campuran klinker, gipsum dan posolan untuk semen jenis P dihancurkan dalam sistim tertutup dalam penggiling akhir untuk mendapatkan kehalusan yang dikehendaki. Semen kemudian dialirkan dengan pipa menuju silo semen.
  7. Dari silo inilah kemudian semen-semen tersebut dimasukkan ke dalam kantong atau kedalam truk pengangkut curah untuk didistribusikan ke pasar.

Rangkuman proses utama produksi semen ini bersumber dari berbagai tulisan yang pernah ada.