Kondisi Industri Semen di Dunia

Menurut International Cement Review, konsumsi semen dunia tahun 2010 diperkirakan tumbuh 9.9% menjadi 3,3 miliar ton. Jika pada tahun 2008 konsumsi semen menurun 2.4% menjadi 2,8 miliar ton akibat krisis global yang dipicu oleh krisis moneter di Amerika Serikat, maka pada tahun 2009 konsumsi semen kembali bangkit dan tumbuh 5.9% menjadi 3,0 miliar ton dan terus tumbuh pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2012 diperkirakan konsumsi semen dunia akan mencapai 3,9 miliar ton. Pertumbuhan yang positif ini didorong oleh kenaikan konsumsi semen yang tinggi di beberapa negara berkembang di dunia, yang disebabkan oleh meningkatnya tingkat pendapatan dan fokus pada pembangunan infrastruktur.

Salah satu pabrik semen di China

China, tetap menjadi negara yang mengkonsumsi semen global dengan jumlah permintaannya di tahun 2010 adalah sebesar 1,8 miliar ton. India, pada posisi kedua dengan jumlah konsumsi sebesar 290 juta ton. Meskipun kecil, Indonesia, Malaysia, Nigeria, Vietnam dan Uni Emirat Arab semua diharapkan untuk mencatat pertumbuhan konsumsi semen pertahun yang cukup signifikan.

Pada negera-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa Barat, penjualan semen akan meningkat dibawah pertubuhan rata-rata konsumsi semen dunia. Di Amerika Serikat misalnya, pasar diharapkan membaik karena adanya kegiatan pemulihan bangunan tempat tinggal, serta pengeluaran pemerintah yang besa rpada sektor konstruksi di tahun 2011. Di Eropa Barat, meningkatnya kegiatan pembangunan akan menguntungkan pasar semen di negara-negara seperti Jerman dan Portugal. Demikian pula, peningkatan anggaran untuk sektor konstruksi di Jepang akan membantu meningkatkan pertumbuhan konsumsi semen dunia secara keseluruhan.

Produksi Semen, Kapasitas produksi semen dunia pada tahun 2010 mencapai 3,5 miliar ton per tahun, tidak termasuk kapasitas produksi pabrik-pabrik semen tua yang ada di China. Sedangkan produksi mencapai 3,3 miliar ton atau 94% dari kapasitas yang telah digunakan. Data ini mencakup 149 negara produsen semen tidak termasuk 17 negara yang tidak mempunyai pabrik semen. Kapasitas tersebut mencakup 2,360 pabrik semen terintegrasi termasuk 1,000 pabrik semen modern di China. industrisemendunia

Konsumsi Semen, Pertumbuhan konsumsi semen dunia di tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar 28% selama kurun waktu lima tahun terakhir. Pada tahun 2008 pertumbuhan konsumsi semen dunia mengalami perlambatan yang disebabkan oleh karena terjadinya krisis moneter yang melanda hampir seluruh negara-negara di dunia dengan kenaikan konsumsi sebesar 2.4% dibanding tahun sebelumnya. Namun di tahun 2010 konsumsi semen dunia mencapai kenaikan sebesar 10% dibandingkan dengan tahun 2009.

Perusahaan Semen Global, Perusahaan-perusahaan global terbesar yang semula diduduki oleh Lafarge Group digeser oleh Holcim Group yang menguasai kapasitas produksi semen sebesar 212 juta ton/tahun dengan volume penjualannya di tahun 2010 mencapai 137 juta ton. Lafarge Group dengan kapasitas produksi 199 juta ton dengan volume penjualan mencapai 141 juta ton. Heidelberg Cement tetap menduduki posisi ketiga dengan kapasitas produksi yang dikuasainya sebesar 112 juta ton dengan volume penjualan tahun 2010 mencapai 78 juta ton. Cemex pada posisi ke empat dengan kapasitas produksi sebesar 97 juta ton dengan volume penjualan tahun 2010 sebesar 66 juta ton.

Sumber : World Cement Review dan Asosiasi Semen Indonesia.

Advertisements

Jembatan Kelok Sembilan

Kelok-9 adalah ruas jalan lintas tengah Sumatra yang menghubungkan propinsi Riau dengan propinsi Sumatra Barat. Kelok-9 terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, sekitar 25km dari kota Payakumbuh ke arah Pekanbaru (Riau). Dinamakan Kelok-9 karena jalan ini yang bentuknya berkelok-kelok sebanyak 9 buah kelokan. Kelok-9 ini merupakan salah satu tempat peristirahatan favorit bagi para pengendara dari Riau menuju Sumbar terutama pengendara motor karena dapat melepas penat sejenak sambil menikmati pemandangan. Pada jalur yang sempit dan selalu macet pada waktu mudik menjelang lebaran, sejak tahun 2003 dimulailah megaproyek 5 tahunan pembangunan Jembatan Kelok 9. Namun karena akibat kurangnya dana, jembatan tersebut belum selesai hingga sekarang. Pemerintah mentargetkan tahun 2011 ini jembatan tersebut selesai.

Ruas jalan Bukttinggi – Pekanbaru adalah ruas jalan Nasional dan merupakan jalan penghubung lintas tengah Sumatra dengan Pantai Timur Sumatra (Padang-Dumai). Kelok-9 terletak pada ruas jalan tersebut, tepatnya pada KM143 – KM148 dari Padang yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan berat truk gandeng maupun trailer.

Dalam pertemuan IMS – GT (Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle) dinyatakan betapa pentingnya jalur strategis Padang-Dumai atau Bukittinggi-Pekanbaru untuk arus barang dan jasa guna mengakomodasi pertumbuhan ekonomi.

Moda angkutan transportasi yang paling tepat untuk jalur strategis tersebut (Bukittinggi-Pekanbaru) adalah moda angkutan darat karena jarak yang relatif pendek +220km. Sekarang ini pertumbuhan lalu lintas angkutan darat dari Bukittinggi-Pekanbaru sudah mencapai +6% pertahun dengan rata-rata 7,900 kendaraan/hari, dan tidak mungkin akan tersaingi dengan moda angkutan lain. Perbaikan jalan Kelok-9 adalah pilihan yang paling tepat untuk dilaksanakan, sehingga kendaraan truk gandeng dan trailer dapat berjalan lancar.

Selain berfungsi sebagai penghubung Sumatra Barat dengan Riau, jembatan Kelok-9 di Kabupaten Limapuluh Kota juga akan dibangun obyek tujuan wisata. Desain jembatan Kelok-9 akan dibuat menarik sehingga menjadi tujuan wisata atau lokasi peristirahatan bagai para pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Jembatan Kelok-9 terdiri dari enam jembatan dengan total panjang 963 m, menghubungkan Sumbar dengan perbatasan Riau dan dijadwalkan selesai 2009. Kelok-9 Sumbar merupakan salah satu jalur pada lalu lintas kendaraan tiap harinya yang rawan kemacetan terutama pada hari libur nasional dan hari besar lainnya seperti lebaran dan natal. Kondisi jalan itu kini sangat sempit, macet dan terjal serta rawan terjadi kecelakaan. Lokasi ini juga merupakan jalur ekonomi kedua daerah Sumbar dan Riau, terutama bagi pedagang dari Riau untuk membeli konveksi di kota Bukittinggi dan Padang.

Diharapkan infrastruktur ini akan bisa menampung kegiatan lalulintas harian rata-rata 6,800 unit kendaraan per hari pada hari biasa dan 11,350 unit kendaraan per hari pada hari libur. Selain itu kelancaran distribusi untuk barang dan jasa juga bisa menjadikan salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada wilayah yang terhubung oleh jembatan tersebut.

Sumber: Warta Semen dan Beton Indonesia