Ekspor Semen dari Indonesia Terus Menurun

Seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan semen domestik, penjualan semen untuk pasar ekspor dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini menunjukkan tren penurunan yang cukup drastis.

Pada tahun 2009, rata-rata ekspor semen dari Indonesia perbulan bisa mencapai 180 ribu ton, demikian juga pada tahun 2010. Namun dengan terus meningkatnya kebutuhan semen di dalam negeri maka sebagian besar alokasi semen untuk pasar ekspor lambat laun terus menunjukkan penurunan sebagaimana terlihat pada grafik diatas.

Pada tahun 2011 ini pada periode Januari hingga Agustus penjualan semen untuk ekspor hanya berkisar 170 ribu ton saja, beberapa produsen semen malah sudah tidak melakukan ekspor semen sama sekali dan lebih berkonsentrasi untuk penjualan di dalam negeri.

Advertisements

Jan-Ags 2011, Pertumbuhan Penjualan Semen Masih diatas 10%

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kemenperin dan ASI, penjualan semen dalam negeri pada periode Januari hingga Agustus 2011 masih menunjukkan persentase yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. Peningkatan selama 8 bulan ini mencapai 13,1%, yang masih diatas angka estimasi yang pernah direalease sebelumnya yaitu 10%.

Jika diamati angka pertumbuhan yang dicapai masing-masing perusahaan pada periode Januari – Agustus tahun 2011 ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, beberapa produsen membukukan penjualan yang sangat tinggi antara lain:  Holcim 30% dan Bosowa 21%.  Kemudian diikuti oleh Indocement 13%, Andalas 11% dan Baturaja 10%. Sedangkan Gresik Grup yang saat ini sedang melakukan pengembangan pabrik-pabrik barunya,  pertumbuhannya hanya dibawah 10%,  masing-masing Tonasa 9%, Gresik 7%, serta Padang 6%.

 

 

Tahun 2012 DMO Batubara 82,07 Juta Ton

Kementerian ESDM menetapkan jatah batubara untuk pemakaian di dalam negeri (domestic market obligation/DMO) pada tahun 2012 mencapai 82,07 juta ton. Besarnya alokasi DMO tertuang dalam Keputusan Menteri No. 1991 K/30/MEM/2011 tentang penetapan kebutuhan dan persentase minimal penjualan batubara untuk kepentingan dalam negeri.

Dalam Kepmen tersebut disebutkan bahwa produksi batubara tahun depan diperkirakan 322 juta ton.  Sebesar 24,72% atau setara dengan 82,07 juta ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (DMO). Angka DMO tahun depan 3,8% lebih tinggi dari jatah tahun ini yang sebesar 78,97 juta ton.

Dari total DMO tahun depan, jatah batubara untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang terbesar volumenya yaitu 69,52 juta ton. PLN merupakan konsumen terbesar batubara untuk pembangkit, yaitu 57,2 juta ton, dan produsen listrik swasta mendapat jatah 10,76 juta ton. Sisanya untuk PT. Freeport Indonesia, PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) dan PT Pusaka Jaya Palu Power.

Selain untuk pembangkit, jatah batubara dalam negeri juga digunakan oleh industri lain. Untuk kebutuhan metalurgi dialokasikan sebanyak 320 ribu ton. Kemudian untuk industri semen 8,4 juta ton, tekstil 1,93 juta ton, pupuk 1,3 juta on, dan pulp 600 ribu ton.

dikutip dari: Investor Daily, 13 September 2011.